| Foto: Laode Hasanudin Kansi dalam persiapan demonstrasi di kejaksaan agung bersama personil AP2 Indonesia |
JAKARTA — Menjelang Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Halu Oleo (UHO) periode 2026-2030, tensi politik di kampus terbesar Sulawesi Tenggara tersebut mendadak memanas. La Ode Hasanuddin Kansi (LHK) secara terbuka mendesak Menteri Pendidikan Tinggi (Mendikti) untuk segera mengevaluasi dan mencopot Plt Rektor UHO yang dinilai mencederai netralitas kontestasi.
LHK mengungkapkan adanya kejanggalan besar dalam proses penjaringan 11 bakal calon (balon) rektor. Salah satu figur yang disorot tajam adalah sang Plt Rektor yang ikut mendaftarkan diri. Padahal, sebelumnya yang bersangkutan sempat menyatakan tidak akan maju dalam bursa pemilihan.
"Posisinya sebagai Plt Rektor sangat rawan memicu intervensi dan penyalahgunaan wewenang (cawe-cawe) untuk memenangkan pilrek," tegas LHK saat ditemui awak media di Jakarta, Sabtu (6/6/2026).
Tak main-main, LHK menjadwalkan bakal menyambangi Kementerian Pendidikan Tinggi pada Selasa, 9 Juni 2026. Selain mendesak pencopotan, ia juga meminta Mendikti menggandeng Menpan-RB/KPK atau Kejaksaan Agung (Kejagung) untuk mengaudit ratusan paket proyek di UHO.
Diduga kuat, ratusan paket proyek tersebut dikendalikan oleh oknum Plt Rektor demi meraup keuntungan pribadi.
"Ada indikasi kuat aliran fee atau gratifikasi dari paket-paket proyek tersebut yang masuk ke kantong Plt Rektor," tambah LHK.
Saat ini, seluruh berkas dari 11 bakal calon—termasuk nama-nama besar seperti Prof. Ruslin hingga Prof. Yusuf Sabilu—telah dinyatakan lengkap secara administrasi. Rencananya, pemaparan visi-misi di hadapan rapat senat terbuka akan digelar pada 29 Juni 2026, disusul penyaringan tiga besar pada 30 Juni 2026.