Sumut Nias Selatan – Kabarkonoha.com
Kasus yang mengelilingi SMK Negeri 1 Ulunoyo semakin memanas, tidak hanya terkait dugaan penyalahgunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun anggaran 2024-2025, namun juga muncul masalah baru terkait ketidakhadiran kepala sekolah, data guru yang diduga siluman, hingga kondisi lingkungan sekolah yang sangat memprihatinkan. Hal ini terungkap dari penyelidikan langsung awak media di lokasi sekolah pada Jumat (24/04/2026).
Ketika wartawan mendatangi sekolah pada jam kerja yang telah ditentukan, Kepala Sekolah tidak ditemukan berada di lokasi. Menurut keterangan salah satu guru yang ada, keberadaannya tidak diketahui dan tidak ada keterangan resmi mengenai ketidakhadirannya. Kondisi ini menghambat upaya konfirmasi langsung untuk mendapatkan penjelasan yang dibutuhkan agar pemberitaan dapat berimbang dan akurat.
Awak media meminta kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Nias Selatan dan instansi terkait untuk meninjau sikap Kepala Sekolah tersebut. "Jika ada hal yang disembunyikan, maka hal itu patut diduga ada sesuatu yang tidak beres dalam pengelolaan sekolah termasuk penggunaan dana publik," ujar salah satu wartawan yang terlibat dalam penyelidikan.
Salah satu sorotan tajam lainnya adalah terkait data guru yang diduga siluman. Terlihat bahwa nama dengan inisial DF tercatat sebagai tenaga honorer di sekolah tersebut dengan pembayaran honor sebesar Rp35.040.000 per triwulan. Namun, hasil temuan di lapangan menunjukkan bahwa guru tersebut jarang terlihat mengajar, dan sebenarnya hanya ada 5 orang tenaga honorer yang aktif dengan pembayaran honor hanya Rp30.000 per les. "Ini jelas menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara data yang tercatat dengan kenyataan di lapangan," ucap salah satu guru saat diwawancarai.
Dalam pantauan langsung, kondisi lingkungan sekolah juga menjadi sorotan. Halaman sekolah yang seharusnya bersih dan terawat malah dipenuhi tumpukan sampah nasi kotak yang menumpuk. Bau tak sedap tercium ke segala arah, sementara sampah berserakan tanpa ada yang mengurusnya. "Ini bukan cuma soal kebersihan, tapi cerminan buruk dari pengelolaan yang tak bertanggung jawab. Dana yang seharusnya dipakai untuk menjaga lingkungan sekolah, malah entah dibawa ke mana. Anak-anak belajar di tempat yang kotak dan tak sehat, sementara yang memegang kendali seolah tak peduli," jelas awak media yang meliput.
Permasalahan di SMK Negeri 1 Ulunoyo semakin memperkuat dugaan adanya kelalaian bahkan penyimpangan dalam pengelolaan sekolah. Sebagai pihak yang meliput langsung di lapangan, awak media menyampaikan harapan yang tulus kepada Kepala Dinas Pendidikan Sumatra Utara terkait dua permasalahan mendesak:
Pertama, terkait pengelolaan Dana BOS – Diharapkan pihak dinas segera melakukan pengecekan menyeluruh dan tegas. "Banyak laporan dan temuan di lapangan menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara apa yang tertulis di laporan dengan kenyataan yang ada. Dana yang berasal dari uang rakyat ini harus dipastikan penggunaannya tepat sasaran, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Jangan sampai dana yang seharusnya untuk meningkatkan fasilitas dan kualitas pendidikan, malah disalahgunakan atau dikelola secara sembarangan. Kami berharap ada tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan atau janji kosong. Siapa pun yang terbukti melakukan penyimpangan, harus diproses sesuai hukum yang berlaku, agar menjadi pelajaran bagi pihak lain," ujar awak media.
Kedua, terkait tumpukan sampah nasi kotak – Hal ini bukan sekadar masalah kebersihan biasa, tapi cerminan dari pengelolaan yang buruk dan ketidakpedulian terhadap kesehatan serta kenyamanan siswa dan warga sekolah. "Kami berharap pihak dinas Pemprovsumut segera memerintahkan agar hal ini ditangani secepatnya, sekaligus membuat aturan dan pengawasan yang ketat agar tidak terulang kembali. Lingkungan sekolah yang bersih dan sehat adalah hak setiap anak, dan menjadi tanggung jawab bersama untuk mewujudkannya," tambahnya.
Awak media menyatakan keyakinan bahwa pihak Dinas Pendidikan Sumatra Utara memiliki komitmen untuk memajukan dunia pendidikan di daerah ini. "Oleh karena itu, harapan kami adalah agar permasalahan ini ditindaklanjuti dengan sungguh-sungguh, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan dapat dipulihkan kembali," pungkasnya.
Liputan:Red
Redaktur:FS.B44