| Foto oleh RDNE Stock project JAKRTASATU |
Oleh: Wahyu Ari Wicaksono, Storyteller
Udara di ruang itu terasa diam sesaat. Sri Mulyani mungkin tersenyum kecil di suatu tempat. Purbaya Yudhi Sadewa, sang Menteri Keuangan, baru saja melancarkan sebuah serangan yang bukan hanya tajam, tetapi juga penuh teka-teki. Sasaran tembaknya jelas Rocky Gerung, seorang intelektual publik yang kerap melontarkan kritik pedas. Namun, di balik setiap data makroekonomi yang dijejalkannya, terselip sebuah pertanyaan yang lebih dalam. Untuk siapa sebenarnya pesan ini?
“Mau kritik dikit, dia suka ledekin, ‘Jokowi nggak ngapa-ngapain’,” ucap Purbaya, dengan gaya khasnya yang santai, hampir tanpa beban. Lalu, dengan senyum yang sarat makna, ia mengakhiri dengan kalimat yang mengguncang, “Saya mau bilang ke Pak Rocky Gerung, belajar ekonomi lagi, Pak.”
Ini bukan sekadar bantahan. Ini adalah sebuah performance. Sebuah pertunjukan di panggung komunikasi politik dimana Purbaya memainkan peran sebagai sang ahli yang sabar, sang negarawan yang berisi, berhadapan dengan kritikus yang dianggap ringan. Ia memaparkan senjata-senyatanya. Pertumbuhan ekonomi yang stabil di angka 5%, inflasi yang terjaga, penurunan rasio utang dari 37% menjadi 29% terhadap PDB, dan defisit yang berhasil ditekan. Setiap datanya adalah anak panah yang ditembakkan tepat sasaran untuk melubangi argumen “tidak ngapa-ngapain”.
Membaca Di Antara Baris-Baris Data Sebuah Sarkasme yang Halus?
Namun, telinga-telinga yang paling awam pun mungkin menangkap sesuatu yang lain. Sebuah nada yang tidak biasa. Sebagaimana dilansir Suara.com, analis politik menduga ada sarkasme halus dalam ledekan Purbaya itu. Sasaran sebenarnya bukan Rocky, tetapi justru Jokowi sendiri.
Bayangkan. Seorang menteri keuangan, yang notabene adalah key trusted person presiden, dengan bangga dan detail memaparkan semua pencapaian ekonomi. Ia seakan berkata, “Lihat, semua ini beres karena kami yang mengerjakan.” Dalam retorika, ini disebut apophasis. Menyangkal sesuatu justru dengan menyebutkannya. Dengan membela pemerintahan Jokowi secara berapi-api dari kritik “tidak ngapa-ngapain”, Purbaya justru secara tidak langsung mengukuhkan bahwa narasi itu beredar, dan mungkin, ada benarnya di tingkat percepatan.
Ia tidak membela dengan mengatakan “Bapak Presiden telah bekerja keras”. Ia membela dengan mengatakan “Kami telah menurunkan rasio utang, kami menjaga inflasi”. Kata ganti “kami” itu yang penting. Ini adalah pembelaan yang berpusat pada kinerja teknis Kementerian Keuangan, bukan pada kepemimpinan visioner presiden.
Strategi Komunikasi Masterstroke atau Blunder yang Berisiko?
Dari kacamata ilmu komunikasi, langkah Purbaya ini adalah sebuah calculated move. Sebuah langkah terhitung yang brilian sekaligus berisiko.
Framing dan Priming. Purbaya dengan cermat membingkai perdebatan. Ia memindahkan wacana dari ranah politis-emosionil (“Jokowi tidak ngapa-ngapain”) ke ranah teknis-empiris (“Ini datanya, mana datamu?”). Ini memaksa lawan bicara untuk bertarung di lapangan yang ia kuasai. Ia juga melakukan priming dengan mendiskreditkan sumber kritik terlebih dahulu (“belajar lagi”), sehingga setiap argumen balasan dari Rocky akan dilihat publik melalui kacamata yang sudah dicatutnya.
Agenda Setting. Purbaya berhasil memaksa media dan publik membicarakan apa yang ingin ia bicarakan. Deretan angka makroekonomi. Bukan isu ketimpangan, bukan isu kesulitan UMKM, bukan isu harga cabe yang fluktuatif. Ia mengalihkan seluruh percakapan ke wilayah yang paling nyaman bagi pemerintah.
The Use of Humor and Satire. Ledekan yang tampak spontan itu justru adalah senjata paling ampuh. Sarkasme dan satire, menurut ahli komunikasi politik seperti Amber Boydstun, memungkinkan pelaku politik menyampaikan pesan keras dengan cara yang mudah dicerna dan shareable. Kalimat “belajar ekonomi lagi, Pak” menjadi soundbite yang sempurna untuk viral di media sosial, mengubur kompleksitas perdebatan yang sebenarnya.
Lalu, Siapa yang Diskakmat?
Jawabannya mungkin tidak sederhana. Pada level permukaan, Rocky Gerung tampaknya yang kena skakmat. Ia didorong ke posisi defensif, dipaksa membuktikan kapasitas ekonominya sebelum kritiknya didengar.
Namun, pada level yang lebih dalam, pesan Purbaya adalah sebuah tamparan halus untuk narasi resmi Istana. Sebuah protes elegan dari seorang technocrat yang lelah dengan narasi yang meremehkan kerja nyata di lapangan. Ia seolah berkata, “Kami di sini bekerja mati-matian, jangan katakan kami tidak ngapa-ngapain.”
Dan yang paling akhir, skakmat itu mungkin justru ditujukan untuk publik luas. Sebuah pesan bahwa pemerintah punya data, punya karya, dan siap menghadapi kritik dengan argumentasi. Sebuah upaya untuk merebut kembali kendali narasi yang selama ini mungkin terasa dilepaskan.
Pertarungan ini belum berakhir. Rocky Gerung, sang profesor filsafat, pasti telah menyiapkan responnya. Ia akan menyerang balik dengan senjata yang berbeda. Bukan dengan data makro, tetapi dengan logika, dengan narasi mikro, dengan pertanyaan tentang apa arti semua angka itu bagi rakyat kecil.
Papan catur narasi politik Indonesia masih terbentang. Dan Purbaya baru saja membuat langkah yang membuat semua orang terpana. Langkah berikutnya, tunggu saja.
Tags
OPINI