![]() |
| Ketgam: Ilustrasi |
Oleh : Robi Anggara
Dalam sejarah komunikasi politik, hanya sedikit pejabat publik yang berhasil melakukan manuver sehalus ini digugat soal A, menjawab dengan Z, namun entah bagaimana publik tetap diarahkan untuk membicarakan Z. Jika ada penghargaan untuk seni mengalihkan pembahasan tanpa terlihat sedang menghindar, mungkin Ridwan Bae sudah menerima trofi “Best Performance in Avoiding Substansi”.
Saat masyarakat mempertanyakan dugaan keterlibatan dirinya dalam berbagai proyek publik, publik tentu berharap jawaban sederhana dan normal apakah benar atau tidak? Namun Ridwan Bae, dengan kreativitas yang patut diapresiasi secara ironis, justru menghadirkan narasi yang sepenuhnya berbeda. Bukan klarifikasi, bukan data, bukan dokumen tetapi drama kecil tentang bagaimana massa aksi disebut-sebut meminta uang. Elegan sekali. Isu hilang, sorotan bergeser, dan publik pun diajak fokus pada cerita baru yang jauh dari substansi.
Sungguh langkah yang brilian. Alih-alih membuktikan bahwa dirinya tidak terlibat dalam persoalan yang sedang disorot, ia memilih pendekatan yang lebih “strategis” menjadi korban. Dengan itu, ia tidak perlu repot membuka dokumen, menyodorkan rekam administrasi, atau menunjukkan bukti apa pun. "Mengapa harus menjawab inti masalah, kalau bisa membangun narasi emosional yang jauh lebih mudah menggerakkan opini?" mungkin ini ucap Ridwan Bae sebelum tidur.
Seakan-akan, publik harus percaya begitu saja bahwa skenario “massa meminta uang” muncul secara tiba-tiba tanpa motif politis, tanpa konteks, dan tanpa satu pun bukti formal yang bisa diverifikasi. Tapi memang, dalam dunia komunikasi modern, siapa yang masih membutuhkan bukti? Yang penting adalah cerita yang enak dikonsumsi, dan di titik inilah Ridwan Bae tampak sangat menguasai panggung.
Padahal, pertanyaan Formasi sangat sederhana apakah dirinya terlibat atau tidak? Namun jawaban itu tidak pernah muncul. Yang muncul justru narasi baru yang begitu jauh dari pokok perkara. Narasi yang bekerja bukan untuk menjelaskan, melainkan untuk menggeser pandangan. Narasi yang tidak menyentuh substansi, namun memaksa publik melihat ke arah lain seperti pesulap yang mengalihkan perhatian penonton ke tangan kirinya sementara tangan kanannya bekerja.
Ironisnya, pola semacam ini justru semakin mempertegas bahwa isu sebenarnya tidak pernah dijawab. Publik tidak memperoleh klarifikasi dokumenter, tidak ada pernyataan struktural, tidak ada pembuktian administrasi. Yang ada hanyalah cerita alternatif yang lebih aman untuk dibahas, lebih nyaman untuk para pendukung dan para penjilat Ridwan Bae, namun hal ini sama sekali tidak menyelesaikan inti persoalan.
Dan pada akhirnya, di tengah semua itu, Ridwan Bae tampaknya berhasil mencapai sesuatu, membuat publik ribut soal motif aksi, bukan soal dugaan yang ditujukan kepadanya. Sebuah kemenangan retoris yang patut dicatat. Sebab di negeri ini, ternyata tak perlu membantah isu, tak perlu membuka dokumen, tak perlu memberi klarifikasi. Cukup memainkan peran sebagai korban, dan opini pun berpindah haluan dengan sendirinya.
Sungguh, kalau politik adalah seni, maka ini adalah salah satu pertunjukan yang layak disebut “masterclass” dalam menghindari substansi tanpa terlihat sedang menghindar.
